Perjuangan Veny sembuh dari Tumor Otak

Kasus gigantisme atau tumbuh seperti raksasa tidak hanya terjadi pada anak-anak. Tapi, itu juga bisa dialami orang dewasa. Namanya akromegali. Gejalanya, tangan, kaki, dan rahang terus membesar. Padahal, usianya sudah lewat masa pertumbuhan. Misalnya, yang terjadi pada Venny Yuniati

pusat tumor otak dan kelainan pituitary satu-satunya di Indonesia. Mereka juga merupakan dokter dari Surabaya Neuroscience Institute (SNeI). Salah seorang anggotanya dr Rahadian Indarto Susilo SpBS.

Menurut Rahadian, Venny tidak kunjung sembuh lantaran penyakit utamanya belum berhasil didiagnosis. Venny sejatinya menderita tumor otak pada kelenjar pituitary. Itu adalah kelenjar penghasil hormon yang mengendalikan organ manusia. Kelenjar tersebut sebesar kacang polong. Lokasinya di pusat otak di belakang hidung dan mata. Terganggunya organ itu bakal berpengaruh besar pada keseluruhan tubuh.

Pada kasus Venny, seluruh anggota tubuhnya tampak tidak bermasalah. Namun, saat diperiksa hormonnya, baru terlihat masalahnya. Hormon pertumbuhan yang normalnya 0–5 pada Venny mencapai 50. ”Sepuluh kali lipat lebih. Venny terlambat ditangani karena tidak dicek hormonnya. Jarang sekali orang cek hormon,” ujar Rahadian.

Menurut dia, tumor pituitary harus segera ditangani. Sebab, jika dibiarkan, itu bisa berbahaya. Pasien akan mengalami perubahan berat badan yang tidak normal. Mereka juga kehilangan menstruasi sebelum menopause dan menekan saraf optik sehingga mengganggu penglihatan. Jika sudah parah, penderita hanya bisa melihat di depan mata. Jarak pandangnya kecil. Sekitarnya gelap. ”Juga merangsang diabetes, kemandulan, sampai pada lakilaki bisa disfungsi ereksi. Jantungnya juga ikut membesar. Bisa gagal jantung,” jelas Rahadian.

Menurut Rahadian, tindakan operasi untuk kasus tersebut saat ini menggunakan teknologi terbaru. Jika dulu operasi kepala harus membuka tengkorak, kini caranya tidak lagi seperti itu. Ada teknik endoskopi neurosurgery. Caranya, sebuah alat khusus dengan dilengkapi kamera dimasukkan lewat lubang hidung. Dari situ, dokter akan mengambil tumornya. ”Tanpa irisan. Kami juga memiliki alat khusus penyedot tumor. Walau tumor keras, bisa disedot. Namanya ultrasonic surgical aspiration. Alat penyedot tumor dengan gelombang ultrasonik,” ujarnya.

Venny dioperasi dengan menggunakan teknik tersebut. Hasilnya, pascaoperasi hormon pertumbuhannya langsung normal di angka 5. Mukanya pun tidak bengap lagi. Menstruasinya normal per bulan. Rahadian berharap tumor pituitary dapat dideteksi sejak dini. Karena itu, jika mengalami gejalanya, penderita segera berobat ke dokter saraf. ”Berobat di Surabaya saja. Ada yang sudah ditanggung BPJS juga. Kalau di Singapura, bisa Rp 300 juta. Untuk apa, di sini juga bisa,” katanya.

source : https://www.pressreader.com/indonesia/jawa-pos/20150307/282385512980176