Cinta merupakan salah satu aspek yang tentu tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kehidupan manusia. Seperti lagu dangdut yang memiliki lirik “hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga”, cinta seolah dikaitkan dengan sesuatu yang sangat esensial yang harus dimiliki oleh seseorang individu. Begitu juga dengan jatuh cinta, yang konon sungguh berjuta rasanya hingga seseorang banyak mengalami perubahan dalam dirinya. Otak termasuk salah satu organ tubuh yang juga berperan dalam perubahan tersebut. Berikut adalah 6 hal yang terjadi di otak manusia, saat mereka sedang jatuh cinta.

  1. Perubahan hormon pria dan wanita

Karena jenis kelamin berbeda, maka perbedaan struktur otak juga berbeda terutama yang dikaitkan dengan jumlah testosteron dalam tubuh. Saat seorang pria sedang jatuh cinta kadar testosteron nya akan menurun, berbanding terbalik dengan wanita yang cenderung memiliki kadar testosteron yang tinggi.

  1. Turunnya kadar serotonin

Semua orang berkata bahwa jatuh cinta akan membuat kita bahagia setiap waktu, nyatanya hal tersebut tidak terjadi. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa serotonin (hormone kebahagiaan) turun drastis saat seseorang sedang jatuh cinta. Dr. Marazziti dari universitas Pisa menyatakan bahwa kadar serotonin akan menurun di tingkat yang setara dengan pasien Obsessive Compulsive Disorder (OCD) atau pasien dengan gangguan obsesi. Otak kita pun cenderung bekerja sebagai seseorang yang obsesif. Bisa dikatakan kita tidak sedang bahagia, melainkan terobsesi seperti sering mengecek pesan singkat dari kekasih di aplikasi chatting atau stalking media sosial seseorang.

  1. Level kortisol meningkat

Dr. Marizziti juga menemukan bahwa ketika kadar serotonin menurun maka kadar kortisol yang dihasilkan oleh otak akan naik. Kortisol adalah hormon yang mempersiapkan tubuh kita untuk bertarung, berperang atau berkompetisi. Hormon kortisol yang tinggi akan membuat seseorang semakin kuat dan penuh energi. Karena itulah seseorang yang jatuh cinta akan memiliki kesulitan untuk tidur bahkan kesulitan makan.

  1. Kecemasan menurun

Yang paling aneh adalah ketika kortisol sedang meningkat apakah itu berarti kecemasan seseorang akan naik? Tidak juga, justru sebaliknya seseorang akan merasa terus berenergi dan tidak cemas akan apapun. Seperti yang sering dikatakan kebanyakan manusia bahwa jatuh cinta bisa menjadi sumber energi bagi seseorang, Hal ini juga diungkapkan oleh peneliti dari University College London, Andreas Bartels dan Semir Zeki yakni ketika jatuh cinta, beberapa bagian pada otak cenderung tidak aktif. Salah satu area tersebut adalah amigdala otak, yang memiliki peran dalam mengatur kecemasan dan kesadaran akan sesuatu yang janggal. Contohnya, ketika seseorang jatuh cinta dan mengetahui sesuatu yang buruk atau janggal tentang pasangannya, ia tetap akan merasa nyaman karena amigdalanya sedang tidak aktif.

  1. Kehilangan penilaian logis

“Cinta itu Buta”, kalimat itu ternyata mampu dibuktikan secara ilmiah. Sebenarnya bukan buta akan tetapi terjadi sebuah hal yang bisa dikatakan sebagai kerusakan otak. Andreas Bartels dan Semir Zaki menyatakan selain amigdala non-aktif, korteks prefrontal ventromedial otak juga akan mengistirahatkan diri. Singkatnya seseorang  akan kehilangan penilaian logis dan kritis terhadap objek yang mereka cintai.

  1. Menjadi bodoh

Lebih parah lagi, sebuah penelitian dari Universitas Leiden, Belanda menyatakan bahwa jatuh cinta akan membuat seseorang kehilangan fungsi kognitif otak. Fungsi kognitif adalah sebuah sebuah fungsi otak yang mengatur proses intelektual yang membuat seseorang menerima dan memahami sebuah ide.

Meskipun banyak sekali fakta-fakta mencengangkan disuguhkan oleh peneliti fungsi otak tentang cinta, namun kebanyakan orang pasti akan memilih tetap jatuh cinta. Setiap orang pernah merasakannya meski hanya sekali dan mereka tidak takut untuk mengalaminya lagi meski amigdala atau korteks prefrontal serta hormon-hormon lainnya yang diatur oleh otak akan mengalami gejolak naik dan turun.

Sumber: https://www.mindbodygreen.com