Tumor Otak dan Gangguan Hormon: Mengapa Berat Badan, Emosi, dan Siklus Haid Bisa Berubah?
Tumor otak tidak selalu menimbulkan keluhan saraf seperti kejang atau sakit kepala. Pada sebagian pasien, gejala justru muncul dalam bentuk gangguan hormon, sesuatu yang jarang dikaitkan dengan otak oleh masyarakat
Hal ini terutama terjadi pada tumor yang tumbuh di sekitar kelenjar hipofisis, sebuah struktur kecil di dasar otak yang sering disebut sebagai “pengatur hormon utama tubuh”. Kelenjar ini mengontrol berbagai hormon penting, termasuk hormon pertumbuhan, hormon tiroid, hormon reproduksi, dan hormon stres.
Jika tumor mengganggu fungsi hipofisis, tubuh dapat mengalami ketidakseimbangan hormon. Gejalanya sering kali tidak khas dan berkembang perlahan, sehingga kerap disalahartikan sebagai masalah biasa.
Pada wanita, tumor hipofisis dapat menyebabkan siklus haid tidak teratur, bahkan berhenti sama sekali. Beberapa pasien juga mengalami keluarnya cairan seperti ASI meskipun tidak sedang hamil atau menyusui. Pada pria, bisa terjadi penurunan gairah seksual atau gangguan kesuburan.
Gangguan hormon juga dapat menyebabkan perubahan berat badan yang tidak wajar, mudah lelah, sensitif terhadap suhu dingin atau panas, serta perubahan suasana hati. Pasien bisa menjadi mudah marah, cemas, atau depresi tanpa penyebab jelas.
Karena gejalanya menyerupai gangguan hormon umum, pasien sering berobat ke dokter kandungan, penyakit dalam, atau psikiater sebelum akhirnya dilakukan pemeriksaan otak. MRI biasanya menjadi kunci untuk menemukan sumber masalah sebenarnya.
Menariknya, banyak tumor hipofisis bersifat jinak dan dapat ditangani dengan obat tanpa operasi. Beberapa jenis tumor bahkan mengecil dengan terapi hormon tertentu. Operasi hanya diperlukan bila tumor menekan saraf penglihatan atau tidak merespons pengobatan
Konsultasikan keluhan anda pada tim dokter kami di nomor Brain Tumor Indonesia
Baca Juga
Bagaimana Dokter Menentukan Jenis Tumor Otak?
Efek Samping Pengobatan Tumor Otak
Tumor Otak yang Ditemukan Secara Tidak Sengaja
