Terapi Kombinasi Astrocytoma

Pada mulanya banyak dokter bedah saraf khawatir mengenai waktu pemberian dan dosis radiasi untuk Low Grade Astrocytoma, begitu juga efeknya pada kemampuan berpikir pasien. Memori jangka pendek dan menurunnya kemampuan konsentrasi yang mana termasuk efek samping sisi kognitif dari pengobatan ini. Sekitar tahun 1980 an, dokter cenderung memberikan terapi radiasi pada seluruh otak, sehingga menjadi hal biasa jika nantinya survivor mengalami kerusakan kognitif jangka panjang. Teknologi radiasi saat ini sudah canggih, sehingga bisa fokus hanya pada sel tumor atau area kecil di sekitar tumor saja. Dua penelitian pada pasien Low Grade Astrocytoma yang diterapi dengan radiasi fokal menunjukkan rendahnya efek kognitif setelah beberapa tahun menjalani pengobatan. Penelitian ini juga membuktikan jika pasien Low Grade Astrocytoma mengalami kelelahan dan depresi jelas tidak berhubungan dengan pemberian terapi radiasi atau tidak. Kalaupun ada keluhan lebih tepatnya akibat dari tumor itu sendiri, bukan radiasi. Fungsi kognitif mayoritas pasien Low Grade Astrocytoma rata-rata stabil, selama sel tumor tidak terus tumbuh Hal ini membuktikan bahwa terapi radiasi saat ini sudah sangat aman.

Keberhasilan penggunaan kemoterapi dalam mengobati Low Grade Glioma (Oligodendroglioma) memunculkan minat baru para dokter untuk menggunakan kemo sebagai pengobatan diffuse astrocytoma. Banyak kasus Low Grade Glioma yang terlihat mirip astrocytoma disekitarnya terlihat seperti oligodendroglioma, tumor ini disebut oligoastrocytoma atau glioma campuran. Beberapa studi menunjukkan bahwa kemoterapi dengan PCV (Procarbazine, CCNU, Vincristine) atau pil kemoterapi Temozolomide (Temodar) dapat menghentikan Low Grade Glioma, termasuk astrocytoma, sejak fase pertumbuhan.

Saat ini para dokter mencoba kombinasi radiasi dengan kemoterapi apakah akan lebih efektif, karena keduanya sangat membantu dalam pengobatan. Melalui riset yang sudah dilakukan pada pasien kasus Low Grade Glioma secara acak, dengan perlakuan terapi radiasi dan kemoterapi PCV. Hasilnya menunjukkan pasien Low Grade Glioma yang diberikan perlakuan kombinasi, sel tumor tumbuh dengan jangka waktu lebih lama dibandingkan pasien yang hanya terapi radiasi saja. Namun kelangsungan hidup pasien identic sama. Hal ini menunjukkan jika pengobatan kombinasi efektif menunda pertumbuhan tumor. Realitanya banyak dokter bedah saraf yang menggunakan Temozolomide daripada PCV. Pada tumor otak yang agresif seperti Glioblastoma, kombinasi radiasi dan temozolomide jauh lebih efektif.

Banyak strategi dalam pengelolaan Low Grade Astrocytoma, namun tidak ada pendekatan tunggal yang direkomendasikan untuk semua pasien. Pasien harus konsultasi dengan tim medis mengenai pilihan pengobatan yang akan dijalani. Akan jauh lebih baik jika studi yang dilakukan memberi tahu lebih banyak mengenai sususnan kimia tumor, sehingga dapat menjadi acuan penetuan tindakan apa yang paling efektif. Analisis semacam ini berfokus pada Low Grade Glioma yang kehilangan bagian dari kromosom 1P dan 19Q (banyak ditemukan pada oligodendroglioma daripada astrocytoma) sebuah protein yang disebut MGMT yang membantu memperbaiki kerusakan dari kemoterapi, disisi lain juga membuat kemoterapi kurang efektif.

Terkadang Diffuse Astrocytoma yang kambuh pasca pengobatan, secara biologis sel tumor ini berubah menjadi lebih agresif. Pasien denga tumor jenis ini umumnya mendapat spectrum percobaan klinis lengkap yang disediakan bagi pasien High Grade Glioma. Uji coba klinis tersebut menguji pendekatan metode pengobatan baru dari rangsangan sistem alami tubuh dan obat-obatan yang dimasukkan dalam darah (inhibisi anti-angiogenesis). Untuk obat-obatan tertentu yang langsung menuju masuk ke jalur biokimia sel tumor target, tapi tidak aktif pada sel normal (Signal Transduction Inhibition). Dengan demikian kemajuan ilmu dibidang High Grade Glioma harus dirasakan juga oleh pasien Diffuse Astrocytoma.

Open chat
Kontak Kami melalui ini
Ada yang bs kami bantu?
Powered by